Memahami Penyebab dan Dampak Kebakaran pada Lahan Gambut

Kebakaran lahan gambut seringkali dipicu oleh aktivitas manusia, seperti pembukaan lahan dengan pembakaran dan pengeringan gambut melalui kanal, yang semakin diperparah oleh kondisi kemarau panjang. Dampaknya dapat meluas dari kerusakan ekosistem dan hilangnya fungsi penyimpanan air hingga kabut asap, gangguan kesehatan, pelepasan emisi karbon, serta kerugian sosial dan ekonomi.

Lahan gambut bukanlah tanah biasa. Ekosistem ini terbentuk dari tumpukan sisa tumbuhan yang membusuk secara tidak sempurna selama ribuan tahun dalam kondisi basah dan tergenang air.

Bisa diumpamakan lahan gambut itu mirip spons raksasa. Gambut menyerap air hujan dalam jumlah yang sangat besar saat musim hujan, lalu melepaskannya perlahan ketika kemarau tiba. Struktur melimpah akan bahan organik membuat gambut sangat kaya akan karbon.

Namun, sifat spons ini menjadi “bumerang” ketika lahan dikeringkan. Gambut yang kehilangan air akan mengering hingga ke lapisan dalam. Bahan organik padat tersebut berubah menjadi bahan bakar yang sangat mudah tersulut.

Satu hal yang kerap mengecoh: kebakaran gambut jarang memperlihatkan kobaran api tinggi di permukaan. Api justru merayap lambat di bawah tanah (subsurface fire). Asap tipis mungkin terlihat di permukaan, padahal di kedalaman 1 hingga 3 meter, bara api terus membakar material organik tanpa henti.

Penyebab Kebakaran Lahan Gambut: Faktor Manusia dan Iklim

Kebakaran gambut hampir tidak pernah terjadi secara spontan murni karena faktor alam. Lebih dari 90 persen kasus dipicu oleh aktivitas manusia, yang kemudian diperparah oleh kondisi iklim dan cuaca.

1. Kanalisasi dan Drainase Berlebihan

Pembukaan lahan skala besar untuk perkebunan atau pertanian sering diawali dengan pembuatan kanal-kanal drainase. Tujuan awalnya sederhana: mengeluarkan air agar lahan bisa ditanami komoditas tertentu seperti kelapa sawit atau kayu pertukangan.

Masalah timbul ketika kanal dibuat tanpa sistem kontrol air yang memadai. Air terkuras habis, menurunkan Tinggi Muka Air Tanah (TMA) hingga lebih dari 40 sentimeter di bawah permukaan. Pada titik ini, gambut atas mengering total dan kehilangan kemampuan menyerap air kembali secara permanen (irreversible drying).

2. Praktik Pembukaan Lahan Murah (Land Clearing)

Metode tebas-bakar (slash and burn) sering menjadi pilih karena dinilai lebih murah dan cepat. Memakai alat berat membutuhkan biaya besar, sementara menyulut korek api hanya butuh modal minimal.

Sayangnya, di atas lahan gambut yang sudah kering, api pembakaran lahan hampir selalu lepas kendali. Angin kencang dan kelembapan udara yang rendah membuat percikan kecil menyebar cepat ke area yang tak direncanakan.

3. Fenomena Iklim El Niño

Ketika siklus iklim El Niño melanda, masa kemarau di Indonesia menjadi jauh lebih panjang dan kering dari biasanya. Curah hujan merosot drastis. Kombinasi suhu udara tinggi, kelembapan udara (RH) rendah, dan ketiadaan hujan menciptakan kondisi sempurna bagi percepatan penyebaran api.

Untuk memahami teknis pengolahan area ini secara aman, pelajari [INTERNAL LINK: teknik sekat kanal gambut – Panduan Teknis Pembuatan Sekat Kanal untuk Basah Kembali].

Dampak Kebakaran Gambut

Dampak bencana ini tidak berhenti begitu api padam. Efek dominonya merembet ke berbagai aspek kehidupan, diantaranya :

Krisis Kesehatan dan Bencana Asap Cross-Border

Asap dari gambut yang terbakar membawa partikel berbahaya PM2.5 dalam konsentrasi sangat tinggi. Partikel mikroskopis ini dapat menembus paru-paru dan masuk ke aliran darah.

Ratusan ribu orang di Sumatra dan Kalimantan berulang kali mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), bronkitis, hingga gangguan jantung. Saat kabut asap memburuk, indeks standar pencemar udara (ISPU) sering menyentuh level berbahaya, memaksa sekolah libur dan aktivitas harian lumpuh.

Asap ini juga melintasi batas negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura, menciptakan ketegangan diplomasi regional yang tidak sedikit nilainya.

Kerugian Ekonomi Bernilai Triliunan Rupiah

Bank Dunia mencatat bahwa bencana kebakaran hutan dan gambut di Indonesia pada tahun 2015 saja menelan kerugian ekonomi mencapai Rp 221 triliun (sekitar USD 16,1 miliar). Nilai ini setara dengan 1,9 persen dari PDB Indonesia saat itu.

Kerugian tersebut bersumber dari:

  • Penutupan penerbangan dan gangguan jalur logistik pasokan barang.
  • Penurunan produktivitas kerja akibat warga yang sakit.
  • Terhentinya operasional sektor perkebunan dan kehutanan.
  • Biaya pemadaman darat dan pemadaman udara (water bombing) yang menyedot anggaran negara.

Pelepasan Emisi Karbon Masif

Lahan gambut Indonesia menyimpan perkiraan 57 gigaton karbon—sekitar 20 kali lipat dari tanah mineral biasa. Ketika terbakar, karbon yang tersimpan ribuan tahun terlepas sekaligus ke atmosfer dalam bentuk karbon dioksida (CO2) dan metana (CH4).

Kondisi ini seketika menempatkan Indonesia sebagai salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar di dunia saat musim kebakaran parah terjadi.

Peran Weather Station di Lahan Gambut untuk Peringatan Dini

Pemadaman api di gambut yang sudah terlanjur membesar adalah pekerjaan yang hampir sia-sia. Air yang disiramkan dari udara sering kali menguap sebelum menembus bara di dalam tanah. Solusi paling efektif adalah pencegahan dini sebelum api muncul.

Di sinilah integrasi teknologi Weather Station dan Automatic Water Level sangat dibutuhkan.

Parameter Kunci yang Diukur Weather Station

Stasiun cuaca otomatis (Automatic Weather Station / AWS) yang dipasang di titik-titik rawan lahan gambut berfungsi mengumpulkan data kondisi mikro-iklim secara real-time. Beberapa parameter iklim yang penting dipantau meliputi:

  • Curah Hujan (Rainfall): Menentukan tingkat kebasahan alami lahan dan memprediksi akumulasi defisit air.
  • Kelembapan Udara (Relative Humidity – RH): Kelembapan di bawah 60% meningkatkan risiko kemudahan terbakar material permukaan.
  • Kecepatan dan Arah Angin: Membantu memprediksi arah penyebaran api jika terjadi kebakaran.
  • Suhu Udara dan Lahan: Memantau kenaikan ekstrem yang mempercepat penguapan air tanah.
  • Kelembapan Tanah & High Precision Moisture Sensor: Memantau seberapa kering lapisan gambut bagian atas.

Integrasi Weather Station dengan Automatic Water Level

Water Level saling melengkapi. Weather Station membaca kondisi atmosfer yang memengaruhi kekeringan, sedangkan water level memantau kondisi air/gambut dari sisi hidrologinya.

1. Weather Station membaca “seberapa kering” kondisi lingkungan

Weather Station dapat merekam curah hujan, suhu udara, kelembapan, kecepatan dan arah angin, serta parameter cuaca lainnya secara berkala atau real-time.

Misalnya, ketika curah hujan terus rendah selama beberapa hari, suhu meningkat, kelembapan turun, dan angin cukup kuat, sistem dapat mengidentifikasi bahwa kondisi lingkungan mulai semakin mendukung terjadinya kebakaran.

2. Water Level membaca “seberapa kering” lahan gambut

Ini bagian yang sangat penting. Lahan gambut sebenarnya sangat bergantung pada kondisi air di bawah permukaan. Ketika muka air tanah turun terlalu dalam akibat musim kemarau atau drainase, gambut kehilangan kelembapannya dan menjadi jauh lebih mudah terbakar.

Penelitian di lahan gambut Indonesia menunjukkan adanya hubungan antara penurunan groundwater level dengan peningkatan hotspot. Salah satu penelitian bahkan menemukan bahwa kelas bahaya kebakaran tinggi banyak terjadi ketika muka air tanah turun di bawah sekitar 40 cm, meskipun angka ambang tersebut perlu disesuaikan dengan karakteristik lokasi.

3. Ketika digabung, keduanya menghasilkan indikator risiko yang lebih kuat

Bayangkan sistemnya seperti ini:

Curah hujan menurun + Kelembapan menurun + Suhu panas tinggi + Muka air tanah menurun = Risiko kebakaran tinggi

Sebaliknya:

Curah Hujan tinggi + Muka air tanah naik + Gambut tetap lembap = Risiko kebakaran rendah

Jadi, sistem tidak hanya bertanya “apakah hari ini panas dan tidak hujan?”, tetapi juga “apakah kondisi air di dalam gambut sudah terlalu rendah?”. Pendekatan yang menggabungkan data curah hujan, groundwater level, dan soil moisture memang telah digunakan untuk menilai kerawanan kebakaran gambut.

4. Data tersebut bisa menjadi sistem peringatan dini

Weather Station + Water Level dapat dibuat sebagai automatic monitoring station yang mengirimkan data melalui IoT/telemetri ke server secara real-time. Ketika parameter melewati batas tertentu, sistem dapat memberikan warning kepada operator atau pengelola lahan untuk melakukan tindakan sebelum kebakaran berkembang.

Contohnya:

Normal → Waspada → Siaga → Risiko Tinggi

Pada kondisi risiko tinggi, pengelola dapat segera melakukan pemeriksaan lapangan, mengaktifkan patroli, melakukan pembasahan/rewetting, mengatur pintu air atau sekat kanal, dan meningkatkan kesiapsiagaan pemadaman. Sistem monitoring water level memang dapat digunakan untuk mengevaluasi kondisi hidrologi sebelum dan sesudah pembangunan sekat kanal untuk membantu mengurangi risiko kebakaran pada musim kering

Data dari Weather Station, lahan gambut dikirimkan via jaringan seluler atau satelit ke dasbor pemantauan pusat. Sistem akan secara otomatis menghitung indeks kerawanan kebakaran.

Strategi Pemulihan dan Tata Kelola Gambut Berkelanjutan

Menjaga gambut agar tidak terbakar butuh pendekatan komprehensif dari hulu ke hilir. Tidak bisa hanya mengandalkan satu metode saja.

Pendekatan 3R: Rewetting, Revegetation, Revitalization

Pemerintah Indonesia melalui Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) mendorong konsep pemulihan ekosistem melalui tiga pilar utama:

1. Pembasahan Kembali (Rewetting)
Langkah ini dilakukan dengan membangun sekat kanal (canal blocking) dan penimbunan kanal untuk menaikkan kembali tinggi muka air tanah. Target utamanya adalah menjaga TMA tidak boleh lebih dalam dari 0,4 meter dari permukaan tanah.

2. Penanaman Ulang (Revegetation)
Menanam kembali spesies tanaman asli gambut yang tahan air seperti jelutung rawa, belangeran, dan sagu. Tanaman ini membantu menjaga kelembapan tanah sekaligus memulihkan ekosistem alami.

3. Revitalisasi Ekonomi Masyarakat (Revitalization)
Masyarakat lokal diajak mengadaptasi komoditas yang cocok untuk lahan basah tanpa harus mengeringkan gambut (paludikultur), seperti budidaya ikan rawa, madu kelulut, dan komoditas non-kayu lainnya.

Menjaga lahan gambut agar tetap basah dan berfungsi sebagaimana mestinya bukan perkara mudah. Dibutuhkan investasi pada teknologi pemantauan yang tepat, koordinasi lapangan yang cepat, serta komitmen nyata dari pemilik lahan dan pemerintah.

Penggunaan alat bantu presisi seperti stasiun pemantau cuaca otomatis terbukti memotong rantai risiko kebakaran sebelum menjadi krisis tak terkendali. Pada akhirnya, membasahi dan memantau gambut jauh lebih murah ketimbang menghentikan api yang sudah meluas di bawah tanah.

Layanan Instalasi Automatic Weather Station dan Automatic Water Level

jasa pemasangan weather station stasiun cuaca

Ridham Tekno Mandiri adalah perusahaan penyedia layanan pile test, instrumen geoteknik dan pemasangan sistem monitoring. Kami melayani instalasi stasiun cuaca otomatis (automatic weather station) dan automatic water level di area lahan gambut.

Jika Anda ingin order layanan ini dari kami atau ingin tanya-tanya lebih dulu, silahkan hubungi kami melalui :

Whatsapp 1 : 0852 8305 2305

Whatsapp 2 : 0823 2364 4140

Whatsapp 3 : 0852 1398 7696

ridhamteknomandiri@gmail.com | sales2rtm@gmail.com

 

Referensi : https://sejarah.dibi.bnpb.go.id/artikel/sejarah-kebakaran-hutan-di-kalimantan-dan-sumatra-pembelajaran-dalam-mitigasi-karhutla/251

Share the Post: