Mengenal Penyebab dan Jenis Pergerakan Tanah

pergerakan tanah

Pergerakan tanah merupakan salah satu fenomena alam yang sering terjadi di wilayah berbukit, pegunungan, maupun daerah dengan kemiringan tertentu. Dalam dunia geoteknik, pergerakan tanah dikenal sebagai mass wasting, yaitu perpindahan massa tanah atau batuan menuruni lereng akibat pengaruh gaya gravitasi.

Fenomena ini terjadi ketika keseimbangan alami lereng terganggu. Selama gaya penahan tanah masih lebih besar daripada gaya yang mendorong ke bawah, lereng akan tetap stabil. Namun, ketika kondisi berubah baik karena alam maupun aktivitas manusia, tanah dapat mulai bergerak dan menimbulkan risiko serius bagi lingkungan serta bangunan di sekitarnya.

Bagaimana Pergerakan Tanah Bisa Terjadi?

Pada kondisi normal, butiran tanah dan batuan saling terikat dan mampu menahan beratnya sendiri. Masalah muncul ketika faktor tertentu melemahkan ikatan tersebut atau menambah beban pada lereng. Akibatnya, gaya gravitasi menjadi dominan dan menarik massa tanah ke bawah.

Proses ini tidak selalu terjadi secara tiba-tiba. Ada pergerakan tanah yang berlangsung sangat lambat hingga nyaris tidak terlihat, namun ada pula yang terjadi secara cepat dan merusak dalam hitungan menit.

Faktor Alam yang Mempengaruhi Pergerakan Tanah

Salah satu faktor utama pemicu pergerakan tanah adalah air hujan. Ketika hujan turun dalam intensitas tinggi dan durasi lama, air akan meresap ke dalam tanah. Air ini menambah berat tanah dan meningkatkan tekanan air di antara butiran tanah, sehingga kekuatan gesernya menurun. Tanah yang awalnya padat bisa berubah menjadi licin dan mudah bergerak.

Selain hujan, kemiringan lereng juga berperan besar. Lereng yang curam memiliki komponen gaya gravitasi yang lebih besar, sehingga lebih rentan terhadap ketidakstabilan. Kondisi ini semakin diperparah jika lereng tersusun dari tanah lepas atau lapisan batuan yang sudah banyak retakan.

Struktur geologi di bawah permukaan juga tidak kalah penting. Keberadaan lapisan tertentu, seperti lempung kedap air di bawah tanah yang lebih permeabel, dapat menjadi bidang lemah tempat tanah meluncur. Getaran alam seperti gempa bumi atau aktivitas vulkanik juga dapat mengganggu kestabilan lereng secara tiba-tiba dan memicu pergerakan tanah dalam skala besar.

Di beberapa lokasi, erosi oleh aliran sungai atau gelombang laut dapat menggerus bagian bawah lereng. Ketika penyangga alami ini hilang, bagian atas lereng menjadi tidak stabil dan berpotensi runtuh.

Peran Aktivitas Manusia dalam Memicu Pergerakan Tanah

Selain faktor alam, aktivitas manusia sering kali mempercepat terjadinya pergerakan tanah. Salah satu contoh paling umum adalah penggundulan hutan. Akar tanaman sebenarnya berfungsi mengikat tanah dan membantu mengatur aliran air. Ketika vegetasi dihilangkan, tanah menjadi lebih mudah jenuh air dan kehilangan daya ikat alaminya.

Pembangunan yang tidak memperhatikan kondisi lereng juga menjadi faktor risiko. Penambahan beban berupa bangunan, jalan, atau timbunan tanah dapat meningkatkan gaya pendorong pada lereng. Jika tidak diimbangi dengan perkuatan yang memadai, lereng bisa kehilangan kestabilannya.

Masalah lain yang sering terjadi adalah drainase yang buruk. Air limbah atau air irigasi yang dibiarkan meresap ke dalam lereng tanpa saluran yang baik dapat meningkatkan kejenuhan tanah secara perlahan. Selain itu, pemotongan lereng untuk keperluan jalan atau permukiman tanpa perencanaan teknis yang tepat juga dapat menghilangkan penahan alami lereng.

Ragam Bentuk Pergerakan Tanah

Pergerakan tanah dapat muncul dalam berbagai bentuk, tergantung pada jenis material, kondisi lereng, dan kecepatan geraknya. Ada pergerakan yang terjadi pada bidang yang relatif rata, sehingga massa tanah meluncur secara menyeluruh. Ada pula yang bergerak pada bidang melengkung, membuat tanah tampak berputar atau tumbang.

Dalam beberapa kasus, pergerakan tanah berlangsung sangat lambat dan hanya terlihat dari perubahan posisi pohon, tiang, atau bangunan yang perlahan menjadi miring. Sebaliknya, ketika tanah bercampur dengan air dalam jumlah besar, pergerakan bisa berubah menjadi aliran yang sangat cepat dan merusak.

Di daerah tebing curam, material batuan dapat terlepas dan jatuh bebas akibat pelapukan atau retakan. Sementara itu, pada wilayah rawan gempa, guncangan kuat dapat menyebabkan tanah kehilangan kekuatannya dan berperilaku seperti cairan, sehingga bangunan di atasnya dapat amblas atau miring.

Memahami pergerakan tanah bukan hanya penting bagi para ahli geoteknik, tetapi juga bagi masyarakat umum, terutama yang tinggal atau beraktivitas di daerah lereng. Dengan pemahaman yang baik, potensi bahaya dapat dikenali lebih dini dan langkah mitigasi dapat direncanakan dengan lebih tepat.

Pengetahuan ini menjadi dasar dalam perencanaan tata ruang, pembangunan infrastruktur, serta penerapan sistem monitoring untuk mengurangi risiko kerugian akibat bencana pergerakan tanah.

Memantau Pergerakan Tanah dengan Monitoring Geoteknik

Pergerakan tanah bisa diukur menggunakan beberapa alat monitoring geoteknik seperti inclinometer, piezometer dan extensometer. Setiap alat memiliki peran untuk mengukur parameter yang mempengaruhi pergerakan tanah mulai dari pergeseran tanah, pori air tanah, daya dukung tanah dan lainnya.

pemasangan inclinometer

Proses pengukuran dilakukan oleh tim ahli yang sudah berpengalaman dalam melakukan monitoring geoteknik. Kami dari Ridham Tekno Mandiri meyediakan jasa inclinometer, jasa piezometer, jasa extensometer dan lainnya. Kami siap mendengarkan kebutuhan Anda dan memberikan rekomendasi jasa atau layanan yang sesuai. Silahkan hubungi kami :

Whatsapp 1 : 0852 8305 2305

Whatsapp 2 : 0823 2364 4140

Whatsapp 3 : 0852 1398 7696

ridhamteknomandiri@gmail.com | sales2rtm@gmail.com

Share the Post: