Soil investigation adalah proses penting dalam dunia konstruksi yang dilakukan untuk memahami kondisi tanah sebelum pembangunan dimulai. Tanah menjadi elemen utama yang menopang bangunan, sehingga karakteristiknya harus diketahui secara jelas agar struktur yang dibangun aman dan tahan lama. Melalui soil investigation, berbagai potensi risiko dapat diidentifikasi sejak awal dan diantisipasi dengan tepat.
Dalam praktiknya, soil investigation melibatkan pengambilan sampel tanah dan serangkaian pengujian untuk mengetahui kekuatan, jenis, serta kestabilan tanah. Informasi ini menjadi dasar dalam perencanaan pondasi dan membantu memastikan bahwa bangunan dapat berdiri dengan aman di atas tanah yang sesuai.
Tujuan Dilakukannya Soil Investigation
Tujuan utama soil investigation adalah memastikan tanah mampu menahan beban bangunan yang akan dibangun di atasnya. Salah satu hal yang diperiksa adalah bearing capacity, yaitu kemampuan tanah dalam menopang beban struktur tanpa mengalami kerusakan atau penurunan berlebihan.
Selain itu, soil investigation juga bertujuan untuk mengetahui posisi groundwater levels atau muka air tanah. Kondisi air tanah sangat berpengaruh terhadap kestabilan tanah dan metode konstruksi yang digunakan. Tanah dengan muka air tanah tinggi memerlukan perencanaan khusus agar pondasi tetap aman.
Soil investigation juga membantu mengidentifikasi potensi masalah seperti settlement, yaitu penurunan tanah seiring waktu, serta liquefaction yang dapat terjadi pada kondisi tertentu, terutama di daerah rawan gempa. Berdasarkan hasil investigasi inilah jenis pondasi ditentukan, apakah menggunakan shallow foundation atau deep piles, sehingga risiko kegagalan bangunan dapat diminimalkan.
Metode yang Digunakan dalam Soil Investigation
Untuk mendapatkan gambaran kondisi tanah yang akurat, soil investigation dilakukan dengan berbagai metode. Salah satu metode yang paling umum adalah borehole drilling, yaitu pengeboran tanah untuk mengambil sampel dari kedalaman tertentu. Dari hasil pengeboran ini, susunan lapisan tanah dapat diketahui dengan lebih jelas.
Metode lain yang sering digunakan adalah test pits, yaitu penggalian tanah dangkal yang memungkinkan pengamatan langsung terhadap kondisi tanah di lapangan. Cara ini biasanya digunakan untuk proyek dengan kedalaman pondasi yang tidak terlalu besar.
Selain itu, terdapat juga in-situ tests seperti Standard Penetration Test (SPT) dan Cone Penetration Test (CPT). Pengujian ini dilakukan langsung di lapangan untuk mengetahui kepadatan dan kekuatan tanah tanpa harus mengangkat seluruh sampel ke permukaan. Pada kondisi tertentu, metode geophysical seperti seismic refraction digunakan untuk memetakan lapisan tanah tanpa perlu penggalian.
Proses Pengujian Tanah
Proses soil investigation dimulai dengan pekerjaan lapangan berupa pengambilan sampel tanah. Sampel yang diambil bisa berupa sampel undisturbed, yaitu tanah yang strukturnya masih utuh, sehingga hasil pengujian lebih mendekati kondisi aslinya di lapangan.
Setelah itu, sampel tanah dibawa ke laboratorium untuk diuji lebih lanjut. Beberapa sifat tanah yang diperiksa antara lain moisture content untuk mengetahui kadar air, shear strength untuk melihat kekuatan geser tanah, serta Atterberg limits untuk memahami karakteristik plastisitas tanah.
Hasil pengujian kemudian dianalisis dan disusun dalam bentuk laporan. Data ini digunakan oleh perencana untuk menyesuaikan desain bangunan dengan kondisi tanah yang ada dan biasanya menjadi persyaratan dalam building codes atau standar bangunan yang berlaku.
Metode Langsung dalam Investigasi Tanah
Metode langsung seperti test pits atau trial pits memungkinkan pengamatan tanah secara visual hingga kedalaman tertentu, biasanya kurang dari 5 meter. Metode ini memberikan gambaran yang jelas tentang jenis tanah dan kondisi lapisan permukaan.
Untuk kedalaman yang lebih dalam, digunakan metode auger boring dan wash boring. Metode ini memungkinkan pengambilan sampel tanah hingga kedalaman sekitar 30 meter, sehingga cocok untuk proyek bangunan bertingkat atau infrastruktur berskala besar.
Penetration Tests dalam Pengujian Tanah
Standard Penetration Test (SPT) dilakukan dengan cara memukul alat sampler ke dalam tanah dan menghitung jumlah pukulan yang diperlukan. Semakin besar jumlah pukulan, umumnya menunjukkan tanah yang lebih padat dan kuat.
Sementara itu, Cone Penetration Test (CPT) atau dikenal juga dengan pengujian sondir tanah, dilakukan dengan menekan alat berbentuk kerucut ke dalam tanah secara perlahan. Metode ini sangat efektif untuk tanah lunak dan memberikan gambaran kondisi tanah secara berkelanjutan dari permukaan hingga kedalaman tertentu.
Metode Geophysical untuk Melihat Kondisi Bawah Tanah
Metode seismic refraction menggunakan gelombang getaran untuk mengetahui kedalaman dan kekakuan lapisan tanah tanpa melakukan penggalian. Selain itu, ada juga metode geolistrik yang menggunakan electrical resistivity untuk memetakan variasi kondisi tanah berdasarkan daya hantar listriknya, yang sering berkaitan dengan jenis tanah dan kandungan air.
Ridham Tekno Mandiri menyediakan jasa soil investigation untuk kebutuhan proyek konstruksi di seluruh Indonesia. Silahkan hubungi kami dan konsultasikan kebutuhan Anda :
Whatsapp 1 : 0852 8305 2305
Whatsapp 2 : 0823 2364 4140
Whatsapp 3 : 0852 1398 7696
ridhamteknomandiri@gmail.com | sales2rtm@gmail.com





